Program ini secara khusus dirancang dengan memberikan pelatihan bela diri yang praktis dan mudah dipelajari oleh berbagai kalangan usia. Teknik-teknik yang diajarkan bukan hanya sekadar seni bertarung, melainkan lebih fokus pada teknik meloloskan diri dari cengkeraman, cara melumpuhkan lawan secara cepat dalam kondisi terdesak, serta penggunaan benda-benda di sekitar sebagai alat pertahanan. Para pelatih yang dikerahkan adalah personel polisi yang ahli di bidang bela diri Polri, karate, dan pencak silat. Dengan bimbingan yang profesional, para peserta diajarkan untuk tetap tenang dan tidak panik saat menghadapi ancaman, karena ketenangan adalah kunci utama dalam mengambil tindakan penyelamatan diri.
Keunggulan utama dari program ini adalah sifatnya yang diberikan secara gratis kepada seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Hal ini dilakukan agar faktor biaya tidak menjadi penghalang bagi warga yang ingin belajar melindungi diri. Antusiasme peserta terlihat sangat tinggi, mulai dari mahasiswi, ibu rumah tangga, hingga pekerja kantoran yang sering pulang malam. Kepolisian ingin memastikan bahwa ilmu keselamatan ini dapat diakses oleh siapa saja. Dengan semakin banyaknya wanita yang memiliki kemampuan dasar bela diri, diharapkan angka kejahatan seperti penjambretan atau pelecehan dapat ditekan, karena pelaku kejahatan akan berpikir dua kali jika calon korbannya memiliki kesiapan untuk melawan.
Fokus perlindungan ini diberikan khusus untuk wanita mengingat secara statistik mereka sering dianggap sebagai pihak yang lemah secara fisik oleh para pelaku kriminal. Namun, melalui pelatihan ini, stigma tersebut ingin dipatahkan. Selain keterampilan fisik, para peserta juga diberikan pemahaman mengenai aspek hukum pertahanan diri agar mereka mengerti batasan-batasan dalam melakukan perlawanan yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sosialisasi mengenai penggunaan aplikasi layanan darurat kepolisian juga diselipkan dalam sesi latihan, sehingga para wanita tahu ke mana harus mencari bantuan otoritas setelah berhasil mengamankan diri dari ancaman langsung.
Selain manfaat fisik, kegiatan rutin ini juga berfungsi sebagai sarana silaturahmi dan dialog antara kepolisian dengan masyarakat. Polisi dapat menyerap informasi mengenai titik-titik rawan mana saja yang sering membuat para wanita merasa tidak aman saat melintas. Data dari masukan para peserta ini nantinya akan digunakan sebagai bahan evaluasi bagi kepolisian untuk mengatur jadwal patroli di wilayah Banjarmasin. Dengan demikian, tercipta sebuah sistem keamanan yang holistik, di mana kepolisian meningkatkan pengawasan dan di sisi lain masyarakat dibekali dengan kemampuan proteksi mandiri. Harapannya, program ini dapat berkelanjutan dan menjadi inspirasi bagi wilayah lain dalam mengedepankan keamanan berbasis pemberdayaan masyarakat.