Polisi Sahabat Anak: Cara Polres Banjarmasin Hapus Stigma Menakutkan

Selama bertahun-tahun, citra aparat kepolisian di mata anak-anak sering kali diasosiasikan dengan sosok yang galak atau menakutkan, bahkan tak jarang dijadikan ancaman oleh orang tua agar anak mau menurut. Stigma negatif ini ternyata membawa dampak jangka panjang terhadap cara masyarakat memandang penegak hukum. Menyadari hal tersebut, melalui program Polisi Sahabat Anak, jajaran Polres Banjarmasin berusaha keras untuk mengubah paradigma lama tersebut menjadi hubungan yang harmonis dan penuh kehangatan. Langkah ini diambil untuk membangun fondasi kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri sejak usia dini.

Program ini diimplementasikan melalui berbagai kegiatan interaktif yang melibatkan personel kepolisian secara langsung di lingkungan sekolah taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Petugas tidak lagi hadir dengan seragam yang terkesan kaku, melainkan dengan pendekatan yang lebih humanis, bercanda, dan memberikan edukasi melalui permainan. Di Banjarmasin, kegiatan ini mendapatkan sambutan yang sangat positif dari para guru dan wali murid. Anak-anak diajak untuk mengenal tugas-tugas polisi secara sederhana, mulai dari mengatur lalu lintas hingga membantu orang yang sedang dalam kesulitan, sehingga mereka memahami bahwa polisi adalah pelindung, bukan sosok yang perlu ditakuti.

Salah satu fokus utama dalam upaya hapus stigma ini adalah memberikan pemahaman bahwa polisi adalah kawan yang bisa dimintai tolong kapan saja. Selama ini, banyak anak yang merasa takut untuk mendekat ke kantor polisi atau sekadar menyapa petugas di jalan. Dengan adanya kunjungan rutin ke sekolah, rasa canggung tersebut perlahan memudar. Anak-anak diajak untuk naik kendaraan dinas, mencoba menggunakan perlengkapan petugas dalam konteks edukasi, dan mendengarkan cerita-cerita inspiratif tentang keberanian. Pengalaman langsung ini jauh lebih efektif dalam mengubah persepsi dibandingkan sekadar memberikan penjelasan secara lisan.

Pihak Polres Banjarmasin juga menyoroti pentingnya peran orang tua dalam hal ini. Kepolisian menghimbau agar para orang tua berhenti menggunakan nama “polisi” sebagai alat untuk menakuti anak ketika mereka sedang menangis atau nakal. Hal ini sangat krusial karena dalam situasi darurat, anak seharusnya merasa aman untuk mencari perlindungan kepada petugas polisi, bukan malah melarikan diri karena rasa takut yang tertanam sejak kecil. Pendidikan karakter yang dimulai dengan rasa aman akan membantu anak tumbuh menjadi warga negara yang patuh hukum tanpa merasa terintimidasi.

Tulisan ini dipublikasikan di berita. Tandai permalink.