Kota Banjarmasin yang dikenal dengan julukan Kota Seribu Sungai memiliki karakteristik transportasi yang unik dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Di wilayah ini, mobilitas masyarakat tidak hanya bertumpu pada jalan raya, tetapi juga sangat bergantung pada mudik jalur darat dan perairan sungai atau laut. Menjelang puncak arus mudik lebaran Maret 2026, Polres Banjarmasin telah meluncurkan program pengawasan komprehensif yang dirancang khusus untuk menangani kerumitan transportasi multimoda tersebut. Melalui pendekatan yang terintegrasi, kepolisian bertekad memastikan bahwa setiap jengkel perjalanan masyarakat tetap berada dalam koridor keamanan yang ketat.
Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan berbagai satuan fungsi yang tergabung dalam tim khusus. Fokus pertama adalah optimalisasi keamanan pada rute darat yang menghubungkan Banjarmasin dengan wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Penjagaan di titik-titik perbatasan kota diperketat untuk memantau volume kendaraan yang keluar masuk. Petugas lalu lintas dikerahkan untuk mengatur persimpangan-persimpangan besar yang rawan macet, terutama di sekitar pusat perbelanjaan dan pasar tradisional yang biasanya mengalami lonjakan aktivitas menjelang hari raya. Edukasi mengenai tata tertib berkendara terus digalakkan agar angka kecelakaan mudik di jalur darat dapat ditekan hingga ke titik terendah.
Keunikan Banjarmasin sebagai kota air menuntut perhatian ekstra pada sektor transportasi sungai. Banyak warga yang menggunakan jasa perahu motor atau speedboat untuk menuju wilayah pedalaman yang tidak terjangkau oleh mobil. Oleh karena itu, Satuan Polisi Perairan (Satpolair) melakukan pemeriksaan intensif terhadap kelengkapan alat keselamatan di setiap dermaga sungai. Penekanan diberikan pada ketersediaan pelampung bagi seluruh penumpang dan larangan keras bagi operator perahu untuk membawa muatan melebihi kapasitas yang ditentukan. Pengawasan di jalur air ini dilakukan secara mobile untuk menjangkau dermaga-dermaga kecil di sepanjang aliran sungai Barito dan Martapura.
Strategi yang diusung dalam Patroli Terpadu ini juga mencakup aspek intelijen untuk mengantisipasi potensi tindak pidana di keramaian. Personel diterjunkan ke titik-titik kumpul pemudik seperti Pelabuhan Trisakti dan terminal-terminal bus untuk memantau aktivitas yang mencurigakan. Keamanan para pemudik menjadi taruhan utama, sehingga tindakan preventif lebih dikedepankan daripada penindakan hukum. Kehadiran polisi di area publik secara konsisten diharapkan dapat memberikan efek psikologis bagi pelaku kejahatan agar mengurungkan niat buruk mereka selama masa libur lebaran berlangsung.