Langkah ini diambil sebagai strategi jitu untuk Cegah Burnout di kalangan anggota yang memiliki beban kerja tinggi. Berbeda dengan pendekatan konseling konvensional, metode yang diterapkan di sini menekankan pada pemanfaatan waktu ibadah sebagai sarana relaksasi alami. Misalnya, jeda waktu salat tidak hanya dipandang sebagai kewajiban agama, tetapi juga sebagai momen detoksifikasi pikiran dari kerumitan berkas perkara. Dengan mengkondisikan masjid atau ruang ibadah di lingkungan kantor sebagai zona tenang, para personel memiliki kesempatan untuk melakukan “restart” mental. Ketenangan yang didapat setelah bersujud dan berdzikir terbukti secara ilmiah mampu menurunkan hormon kortisol yang menjadi pemicu stres utama dalam tubuh manusia.
Program Berbasis Ibadah ini juga mencakup sesi berbagi atau diskusi rohani yang dilakukan secara santai. Dalam forum ini, para anggota diperbolehkan mencurahkan keluh kesah mereka dalam perspektif keagamaan. Pendekatan ini membuat personel merasa tidak sendirian dalam menghadapi beban tugas. Nilai-nilai seperti kesabaran, keikhlasan, dan tawakal diaplikasikan secara praktis dalam menghadapi dinamika lapangan. Polisi yang mampu mengelola emosinya melalui pendekatan spiritual cenderung memiliki tingkat empati yang lebih tinggi saat melayani masyarakat. Mereka tidak mudah meledak atau bersikap apatis terhadap keluhan warga, karena memiliki cadangan energi mental yang cukup yang didapat dari kedekatan mereka dengan Sang Khalik.
Implementasi program ini di Polres Banjarmasin juga melibatkan peran aktif pimpinan sebagai role model. Pimpinan yang memberikan teladan dalam menjaga keseimbangan antara tugas negara dan kewajiban ibadah akan memotivasi bawahan untuk melakukan hal yang sama. Keseimbangan ini sangat penting bagi keberlanjutan karier seorang polisi. Seorang petugas yang sehat secara mental akan jauh lebih produktif dan inovatif dalam memecahkan masalah keamanan di lingkungannya. Selain itu, angka pelanggaran disiplin biasanya menurun secara otomatis ketika kesehatan mental personel terjaga dengan baik. Rasa aman yang dirasakan oleh anggota polri secara internal akan terpancar keluar dalam bentuk pelayanan publik yang prima dan penuh keramahan.
Secara jangka panjang, budaya organisasi yang peduli pada kesehatan mental melalui jalur spiritualitas ini akan menciptakan lingkungan kerja yang suportif. Masyarakat di wilayah Banjarmasin tentu sangat diuntungkan dengan hadirnya petugas-petugas yang bugar secara psikologis. Pelayanan yang diberikan akan terasa lebih manusiawi dan jauh dari kesan kaku atau arogan. Upaya preventif terhadap gangguan kesehatan mental ini menjadi bukti bahwa kesejahteraan personel kepolisian tidak hanya diukur dari tunjangan materi, tetapi juga dari ketenangan jiwa dan kebahagiaan batin. Dengan mental yang sehat, tugas melindungi dan mengayomi masyarakat dapat dijalankan dengan penuh dedikasi tanpa harus mengorbankan kewarasan diri di tengah tekanan tugas yang tiada henti.