Setiap senjata api memiliki “sidik jari” tersendiri yang tertinggal pada setiap peluru yang ditembakkannya. Inilah dasar dari cara kerja ilmu balistik forensik yang digunakan polisi untuk menghubungkan sebuah proyektil dengan senjata pelakunya. Saat sebuah peluru meluncur keluar dari laras senapan, ia akan bergesekan dengan alur dan galangan ( rifling ) di dalam laras. Gesekan ini meninggalkan goresan-goresan mikroskopis yang unik pada permukaan timah atau tembaga peluru tersebut. Tidak ada dua laras senjata di dunia ini yang meninggalkan pola goresan yang benar-benar identik.
Dalam praktiknya, cara kerja ilmu balistik dimulai dengan penemuan proyektil atau selongsong peluru di lokasi kejadian. Tim forensik akan mengukur kaliber, berat, dan arah datangnya peluru untuk menentukan posisi penembak. Jika polisi berhasil mengamankan senjata yang diduga milik pelaku, mereka akan melakukan uji tembak di laboratorium ke dalam tangki air khusus. Peluru hasil uji tembak ini kemudian dibandingkan dengan peluru dari TKP menggunakan mikroskop perbandingan (comparison microscope). Jika pola goresannya sejajar dan identik, maka bisa dipastikan secara absolut bahwa senjata tersebutlah yang digunakan dalam aksi kejahatan.
Selain melacak goresan, cara kerja ilmu balistik juga mencakup analisis residu mesiu (Gunshot Residue / GSR) yang tertempel pada tangan atau pakaian tersangka. Saat senjata meletus, awan partikel kimia dari mesiu akan menyebar dan menempel pada apa pun yang berada di dekatnya. Dengan menggunakan pemindaian mikroskop elektron, polisi dapat membuktikan bahwa seseorang telah menarik pelatuk senjata, meskipun ia telah mencuci tangannya. Bukti ilmiah ini sangat kuat dan sering kali menjadi kunci utama dalam persidangan kasus-kasus penembakan untuk mematahkan sangkalan dari para terdakwa.
Kemajuan teknologi di tahun 2026 juga memungkinkan polisi menggunakan basis data balistik terpusat yang disebut IBIS (Integrated Ballistics Identification System). Sistem ini memungkinkan penyidik di satu kota mencocokkan selongsong peluru dengan senjata yang pernah digunakan dalam kejahatan di kota lain, bahkan beberapa tahun sebelumnya. Melalui pemahaman mendalam tentang cara kerja ilmu balistik, kepolisian dapat melacak perjalanan sebuah senjata ilegal dari tangan ke tangan. Sains ini mengubah proyektil kecil yang tampak tak berarti menjadi bukti kuat yang mampu menjebloskan pelaku kriminal berbahaya ke dalam jeruji besi.