Kejadian tersebut bermula ketika hujan lebat mengguyur wilayah hulu selama berjam-jam, mengakibatkan kiriman air dalam volume besar yang memicu terjadinya banjir bandang di beberapa titik rendah. Air mulai masuk ke rumah-rumah warga dengan sangat cepat pada saat sebagian besar penduduk sedang beristirahat. Laporan darurat yang masuk ke pusat komando segera direspons dengan pengerahan unit reaksi cepat. Anggota kepolisian yang tiba di lokasi segera melakukan evakuasi secara manual, menggendong lansia, dan mengevakuasi anak-anak menggunakan perahu karet serta peralatan seadanya demi mengejar waktu sebelum air semakin tinggi.
Kondisi medan yang gelap dan dipenuhi material sampah serta kayu yang terbawa arus membuat proses penyelamatan menjadi sangat berisiko. Namun, semangat untuk selamatkan warga tetap menjadi motor penggerak utama bagi setiap petugas di lapangan. Beberapa anggota polisi bahkan harus berenang melawan arus yang kencang untuk mencapai rumah-rumah yang terisolasi. Keberanian ini bukan sekadar menjalankan tugas profesi, melainkan bentuk panggilan kemanusiaan yang mendalam. Warga yang sempat terjebak di atap rumah merasa sangat terbantu dan bersyukur atas kehadiran petugas yang bekerja tanpa henti hingga fajar menyingsing.
Selain melakukan evakuasi fisik, pihak kepolisian juga berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mendirikan posko pengungsian darurat. Di tengah situasi kacau tersebut, pengaturan arus lalu lintas di jalur evakuasi tetap dijaga agar mobil ambulans dan bantuan logistik dapat masuk tanpa hambatan. Kehadiran Polres Banjarmasin di tengah bencana memberikan ketenangan psikologis bagi para pengungsi yang kehilangan harta benda mereka. Petugas tidak hanya menjaga keamanan barang-barang yang ditinggalkan pemiliknya, tetapi juga turut mendistribusikan bantuan makanan dan obat-obatan kepada mereka yang berada di tenda-tenda darurat.
Apresiasi datang dari berbagai pihak atas kesigapan kepolisian dalam menangani banjir bandang. Tindakan yang dilakukan pada malam hari tersebut menjadi bukti nyata bahwa kesiapan personel dalam menghadapi situasi darurat sudah sangat teruji. Koordinasi yang apik antara pimpinan dan anggota di lapangan memastikan bahwa operasi kemanusiaan ini berjalan efektif dengan meminimalisir jatuhnya korban jiwa. Kejadian ini juga mempererat hubungan emosional antara polisi dan masyarakat, di mana polisi dipandang sebagai pelindung yang hadir di saat yang paling kritis dan menentukan bagi keselamatan publik.